Kamis, 15 Desember 2011

BEHIND THE CHANT: ARE YOU WATCHING MERSEYSIDE?!

  

"Are you watching Merseyside?
Are you watching...
Are you watching...
Are you watching Merseyside!"
"Oh Merseyside! (Oh Merseyside!)
Is full of shit! (Is full of shit!)
Oh Merseyside is full of shit..
It's full of shit, shit, and more shit!
Oh Merseyside is full of shit!"
"You Scouse bastard!
You Scouse bastard!
You Scouse bastard!"
 
Sebagian besar fans United sudah tidak asing lagi dengan chant-chant di atas. Hampir di setiap pertandingan, Red Army mengumandangkan chant-chant tersebut, begitu juga fans United di Indonesia, sering menyanyikannya saat nonton bareng (nonbar) --meski bukan melawan Liverpool-- sebagai simbolisasi ejekan dan kebencian sampai mati pada seteru abadi dari kota pelabuhan itu.

Merseyside dan Scouser... dua kata yang akan selamanya melekat pada Liverpool Football Club... dua kata yang akan selamanya diteriakkan fans United dengan api kebencian.

So, apa itu Merseyside dan Scouser? Berikut penjelasan singkatnya.

MERSEYSIDE

Merseyside adalah 1 dari 5 provinsi yang terletak di wilayah Inggris Barat Laut (North West England). 4 provinsi lainnya adalah Cheshire, Cumbria, Lancashire, dan Greater Manchester.
Posisi Merseyside (merah) dalam peta Inggris
Merseyside dalam wilayah Northwest England
Pembagian 5 wilayah Merseyside
Bendera Merseyside
Lambang Merseyside

Nama Merseyside diambil dari nama sungai Mersey yang mengalir sepanjang provinsi ini.
Potret Sungai Mersey dari udara
Sungai Mersey

Merseyside sendiri terdiri dari 5 wilayah: Knowsley, St. Helens, Sefton, Wirral, dan Liverpool. Nah Liverpool inilah yang menjadi wilayah terpadat sekaligus sebagai ibukota dari provinsi Merseyside.
Pusat kota Liverpool
Jadi saat fans United ngechant "Are you watching Merseyside?" sebenarnya mereka mengejek dalam sekup yang lebih luas, tidak hanya sebatas penduduk kota Liverpool.

Kenapa tidak "Are you watching Liverpool?" Karena mayoritas penduduk Merseyside adalah pendukung LFC maka kalimat "Are you watching Merseyside?" lebih tepat untuk dipakai. Perumpamaannya kurang lebih sebagaimana mayoritas penduduk Jawa Barat --tidak hanya kota Bandung-- adalah pendukung Persib.
 
 

Luas wilayah Merseyside adalah 645 km2, ini berarti sedikit lebih kecil dari DKI Jakarta yang mempunyai luas 740 km2.

Sementara luas kota Liverpool adalah 111 km2, jauh lebih kecil dari kota Depok yang mempunyai luas 200 km2. Ini juga berarti kota Liverpool cuma 2 kali lebih besar dari wilayah Cimanggis.

Jumlah penduduk provinsi Merseyside ± 1,3 juta jiwa, hanya berbeda sedikit dengan Depok yang mempunyai penduduk ± 1,1 juta jiwa.

Sementara jumlah penduduk kota Liverpool adalah 434.900 jiwa, yang berarti cuma 1/5 dari total penduduk Jakarta Selatan.

Mayoritas penduduk Merseyside dan terutama kota Liverpool bekerja di industri jasa-niaga. Meski terkenal sebagai kota pelabuhan, faktanya kini hanya sekitar 10 % Scousers yang terjun di sektor tersebut.
Albert Dock, dermaga utama kota Liverpool

Sebagai kota pelabuhan, maka wajar bila penduduknya cenderung kasar dan suasana di beberapa sudut kotanya agak kumuh, gambarannnya kurang lebih sama dengan daerah Jakarta Utara khususnya Tanjung Priok. Hal inilah yang memotivasi Red Army dan fans klub lain untuk menyanyikan chant yang menyindir tingkah laku barbar dan kondisi sosial ekonomi Scousers yang memprihatinkan, seperti chant "In Your Liverpool Slum", "Feed The Scousers", "You'll Never Get a Job", dll.
"Feed the Scousers... let them know it's Christmas time!"

"Sign on... sign on... with hope in your heart...
and you'll never get a job... you'll never get a job!"

Beberapa sindiran terhadap Scousers:
Reaksi Scousers terhadap kebijakan tenaga kerja
Feed The Scousers, let them know it's Christmas time!
Scouser akan mencuri apapun, waspadalah!
Headline kontroversial harian The Sun yang mengungkapkan prilaku barbar Scousers
Beberapa gambaran "Liverpool Slum":
 
 
"In your Liverpool slums
You look in a dustbin for something to eat
You find a dead rat and you think it's a treat
In your Liverpool slums

In your Liverpool slums
Your mum's on the game and your dad's in the nick
You can't get a job 'cause your too fucking thick
In your Liverpool slums

In your Liverpool slums
You wear a shell suit and have got curly hair
All of your kids are in council care
In your Liverpool slums

In your Liverpool slums
There's piss on the pavement and shit on the path
You finger your grandma and think it's a laugh
In your Liverpool slums
In your Liverpool slums
You used to sing Munich but not anymore
Since 96 Scousers lay dead on the floor
In your Liverpool slums."
 
SCOUSER
Scouser adalah sebutan bagi penduduk Merseyside. Sementara Liverpudlian adalah sebutan untuk penduduk kota Liverpool, meskipun saat ini istilah Liverpudlian lebih identik sebagai sebutan untuk fans Liverpool sementara Evertonian menjadi sebutan untuk fans Everton. So, jangan kaget jika suatu saat ada Scouser yang berkata: "I am Liverpudlian and I support Everton." karena memang aslinya itu adalah sebutan untuk penduduk kota Liverpool.
Kata Scouse sebenarnya merupakan singkatan dari Lobscouse yang artinya makanan daging rebus yang populer dikalangan pelaut di abad 19, jadi dulu para pelaut ketika berlabuh di Liverpool selalu menyantap Lobscouse sehingga akhirnya Scouse menjadi sebuah nama identitas.
Lobscouse

Selain itu Scouse juga menjadi nama dialek. Dialek Inggris Scouse terkenal sebagai dialek yang sangat susah dipahami, sehingga sampai muncul idiom: Kalau anda mengerti apa yang Scouser katakan, berarti anda telah menguasai bahasa Inggris dengan sangat baik.
 

So, that's the brief story about Merseyside and Scouser, now let's shout it loud:



Rabu, 14 Desember 2011

UPS.. SALAAAH!!!

By: dredarmy
Terinspirasi dari acara di sebuah stasiun televisi swasta, terpikir oleh saya untuk mengumpulkan komentar-komentar 'salah' dari pemain, manajer, dan siapapun yang komentarnya berkaitan dengan United. Inilah 8 komentar 'salah' yang paling menggelitik:

Ups, salaaah! #8 --> Roy Keane, pada 1995
"Sebagian orang dilahirkan untuk menjadi pemimpin dan aku tidak merasa bisa menjadi seorang manajer..."

Yang terjadi: 
13 TAHUN KEMUDIAN, KEANO MEMANAJERI SUNDERLAND :))

 
 ====================================================
Ups, salaaah! #7 --> George Best, pada 2004
 "Semua orang menggilai Wayne Rooney di Euro 2004 ini. Ada yang mengatakan United akan membelinya. Tapi saya rasa kita tidak membutuhkannya."

Yang terjadi: 
TAK LAMA USAI EURO 2004, UNITED MEMBELI ROONEY DENGAN REKOR TRANSFER PEMAIN MUDA TERMAHAL :))
 ====================================================
Ups, salaaah! #6 --> Sir Alex Ferguson, pada 1999
"Saya selalu menargetkan usia 60 untuk berhenti dari pekerjaan ini, itulah batas bagi saya."

Yang terjadi:
25 YEARS AND COUNTING... :))
 ====================================================
 Ups, salaaah! #5 --> Carloz Tevez, pada 2008
 "Saya bahagia bermain disini, saya ingin selama mungkin bermain untuk klub ini sebelum menutup karir di Argentina."


Yang terjadi:
WELCOME TO "MANCHESTER"!!! :))
====================================================
 Ups, salaaah! #4 --> Ed de Goey, kiper Chelsea, pada 1998/99
 "Biarlah United menjuarai Liga Champions dan Arsenal memenangi Piala FA, karena Premier League akan menjadi milik kami."

Yang terjadi: 
UNITED MEMBORONG SEMUANYA... THE FAMOUS TREBLE!!! :))
====================================================
 Ups, salaaah! #3 --> Lennart Johansson, Presiden UEFA, pada 1999
 
 "Apa? Kamu gila? Yang benar saja!"

(Lennart Johansson, presiden UEFA, yang sedang mengawasi petugasnya melilitkan pita warna Bayern Muenchen pada trofi Liga Champion 1998/99 di ruang dalam Nou Camp, ia mengeluarkan reaksi itu ketika mendengar kabar dari petugas lainnya yang lari tergopoh-gopoh bahwa keadaan dilapangan sudah berubah. Karena tidak percaya ia kembali untuk mengecek langsung dan setelah melihat sendiri apa yang telah terjadi di lapangan, ia berkomentar: "Apa-apaan ini? Baru beberapa menit yang lalu aku tinggalkan lapangan dengan pemandangan tim Jerman itu dan fansnya siap berpesta, tapi kenapa sekarang keadaannya terbalik begini? Mengapa sang pemenang menangis dan yang kalah tertawa?")

Yang terjadi:
...AND SOLSKJAER HAS WON IT!!! :))
====================================================
 Ups, salaaah! #2 --> YSB
 "You'll never beat this."
(Salah satu banner yang terpampang di Anfield ketika United bertandang pada 1997, merujuk kepada 18 gelar liga milik Liverpool)

Yang terjadi: 
WE KNOCKED YOU OFF YOUR FUCKING PERCH!!! :))
 ====================================================
And here's my favorite:

Ups, salaaah! #1 --> Alan Hansen, komentator dan mantan pemain Liverpool, pada 1995)
 "You'll never win anything with kids."

Yang terjadi: 
WE'VE WON EVERYTHING WITH KIDS!!! :))



Selasa, 13 Desember 2011

UNITED v LIVERPOOL: THE FIERCEST RIVALRY?

by: Terry Christian (MUTV journalist)

Pertemuan United v Liverpool berarti pertemuan dua musuh abadi dan bisa dipastikan akan selalu berlangsung dalam atmosfer yang tidak hanya panas, tapi juga mendidih. Itu kenyataannya. Hal ini cukup lucu karena saat saya mulai mendukung United di era 60-an saya mengalami hal yang cukup berbeda. Ingatan pertama saya sebagai fan United adalah kejayaan kita di masa itu yang diisi para pemain seperti Best, Law, dan Charlton. Sementara hanya beberapa mil dari kita, Manchester City, yang dimotori oleh Colin Bell, Franny Lee, dan Mike Summerbee, selalu menjadi duri dalam daging. Dalam waktu dua tahun, City berhasil menjuarai liga, FA Cup, dan pada 1970 mereka meraih cup double dengan raihan Cup Winners' Cup dan League Cup. Jika empat gelar City tersebut ditambah dengan satu European Cup yang diraih United pada 1968 maka Manchester saat itu benar-benar menjadi “The Capital of Trophies”.
 

Itulah mengapa, bagi para fans United di era tersebut, City tak diragukan merupakan rival utama, yang kemudian diikuti Leeds United, yang sangat tidak populer, karena memainkan gaya sepakbola yang kotor. Sejujurnya, Liverpool bahkan tidak masuk hitungan saat itu. Bahkan bisa dikatakan bahwa Everton-lah yang saat itu merupakan rival dari Merseyside yang sebenarnya. Kebetulan pertandingan pertama United yang saya saksikan adalah saat melawan Everton di Old Trafford dan kita kalah 0-2, dua minggu kemudian Everton kembali membantai kita 3-0 di Goodison Park. Mereka akhirnya menjuarai liga musim itu (1969/70). Saat itu fans United betul-betul membenci tim biru Merseyside. Liverpool? Well, musim itu kita mengalahkan mereka 1-0 di Old Trafford dan dengan nyaman membantai mereka 4-1 di Anfield. Rival? Tidak juga.
Mungkin sekarang terdengar sangat konyol, tapi ini harus saya sampaikan: kita justru dulu bersimpati pada Liverpool. Mereka mempunyai beberapa pemain bagus, seperti Peter Thompson, pemain sayap yang penuh trik, dan striker Roger Hunt. Manajer mereka, Bill Shankly adalah teman dekat Sir Matt Busby. Saya pikir tak seorang pun dari teman saya yang menyaksikan final FA Cup 1971 antara Liverpool melawan Arsenal yang menginginkan tim Scousers itu kalah. Aneh bukan?

Era baru dominasi Liverpool dimulai dengan double yang mereka raih lewat gelar liga dan UEFA Cup 1973. Meski demikian, fans United tidak terlalu mengkhawatirkannya, bahkan bagi kita, lebih baik Liverpool yang menjuarai liga daripada Leeds yang kotor. Namun, memang saat itu mulai muncul beberapa fans Liverpool yang cukup vokal menyuarakan kebencian kepada United, ditambah lagi gaya permainan Liverpool yang mulai mengikuti gaya kotor Leeds, bibit rivalitas United dengan Liverpool pun mulai tumbuh.
Di era 70-an, liga didominasi oleh permainan defensif dan kotor, banyak tim yang lebih menekankan pendekatan otot. Di musim 1971/72 Derby County menjuarai liga, tepat dibelakangnya berturut-turut di posisi dua, tiga, empat: Liverpool, Leeds, dan City. Saat itu pertahanan benar-benar menjadi prioritas nyaris semua tim. Permainan bertahan merebak dimana-mana dan rataan jumlah penonton pun menjadi menurun.

Fans Liverpool mulai berkoar tentang tim mereka sebagai yang terbaik di liga. Tapi sejujurnya kita tidak terlalu terganggu, yang paling mengganggu kita bukanlah kesuksesan Liverpool, tapi cara bermain mereka yang negatif, banyak mengandalkan back pass, dan hanya mengandalkan serangan balik. (Fakta yang cukup menarik adalah bahwa Liverpool selalu gagal menjuarai liga sejak peraturan back pass diberlakukan sampai saat ini). Di samping semua hal itu, menurut saya, rivalitas kita dengan Scousers mulai tumbuh karena kecemburuan mereka terhadap gaya bermain kita. Mereka tidak bisa menandingi kemegahan gaya bermain trio Best-Law-Charlton. Tim kita diisi para jenius yang bermain sepakbola dengan elegan yang menutupi sorotan terhadap raihan dua gelar liga Liverpool pada dekade tersebut. Itu fakta.
 

Pada musim 1973/74 United akhirnya terjerembab ke jurang degradasi. Hanya semusim. Pada 1975/76 kita kembali ke divisi tertinggi dengan status sebagai juara divisi dua. Di musim itu, United bermain di depan rataan jumlah 50.000 penonton dengan skuad yang muda, kuat, kreatif, dan pemainan yang atraktif.
Padahal dibanding tim lainnya, kita relatif berisikan manusia-manusia kerdil. United asuhan Tommy Docherty saat itu hanya mempunyai tinggi rata-rata 175 cm dengan umur rata-rata 23 tahun. Meskipun begitu, kita mengejutkan liga dengan gaya bermain yang menyerang total, menghancurkan Sheffield United 5-1 pada laga pembuka di Old Trafford. United are back! Kita langsung memenuhi headline surat-surat kabar yang pada saat itu mungkin sudah sangat jenuh memberitakan permainan defensif dan membosankan dari tim-tim lain.

Malang tak dapat ditolak, kita dihantui cedera menjelang akhir musim, sehingga akhirnya hanya berhasil finish di peringkat ketiga, empat angka lebih sedikit dari Liverpool yang menjadi juara. Namun ingat, kita meraihnya dengan status sebagai tim promosi, dan jika sedikit saja lebih beruntung, kita bisa meraih double dengan menjuarai FA Cup, sayangnya kita terhempas di final oleh Southampton dengan skor 1-0 meski sepanjang laga final itu kita mendominasi.
Dan ini dia, Musim 1976/77: Liverpool kembali menjuarai liga, dengan City sebagai runner-up. Saat itu mereka juga telah berada di final FA Cup dan untuk pertama kalinya masuk final European Champions Cup. Sejarah treble ada di depan mata mereka. Liverpool akhirnya memang berhasil menjadi juara Eropa untuk pertama kalinya setelah mengalahkan Borussia Muenchengladbach, tapi… mereka menangis di FA Cup. Kita, Manchester United, mengalahkan mereka 2-1 di Wembley sekaligus mengubur impian mereka untuk mengukir treble. Bagi saya, dan setiap fans United saat itu, hari dimana kita mengacaukan pesta para Scousers di Wembley adalah hari penuh kemenangan! Para Liverpudlians harus menerima kenyataan bahwa mereka telah meraih double yang luar biasa dengan meraih gelar liga dan Eropa, tapi mereka tak mampu menyentuh keagungan sebuah treble. Wembley, 21 Mei 1977: kebencian antara dua kubu benar-benar dimulai saat itu dan tak pernah redup setelahnya. That was the first rage point of this Reds Rivalry.
 
Akhir dekade 70-an dan sepanjang dekade 80-an adalah masa-masa penuh kegelapan bagi United, Liverpool mendominasi. Kita hanya mampu mendekati mereka, tapi tak pernah mampu mengatasi jurang perbedaan yang ada. Di bawah Dave Sexton, kita mencoba bermain dengan gaya negatif: menang 1-0 kemudian bertahan, tak ada gaya, fans United membenci hal itu. Sexton pun dipecat meski United berhasil memenangi tujuh pertandingan berturut-turut. Rataan penonton di Old Trafford menurun. Sepakbola efektif tapi jauh dari atraktif bukanlah gaya yang ingin dilihat Red Army. Itu bukan gaya United. Kemudian datanglah Ron Atkinson, juga sederet pemain mahal. Sepakbola seksi ala United pun kembali. Namun Liverpool tetap mendominasi liga meski United sering mengalahkan mereka kandang maupun tandang di era itu.

Dekade 80-an United meraih beberapa kesuksesan di ajang FA Cup, tapi yang paling memuaskan Red Army adalah kekalahan-kekalahan yang rutin ditimpakan terhadap Liverpool. Kebencian Scousers terhadap United menggelitik saya. Mereka sangat membenci kita walaupun mereka sendiri telah meraih berbagai kesuksesan. Ini masalah status. Berapa pun jumlah Champions Cup yang diraih Liverpool, United tetap merupakan tim Inggris pertama yang meraihnya. Berapa pun gelar liga yang mereka rebut, United tetap lebih populer dan lebih elegan dalam bermain.

Reputasi Liverpool di Eropa dibangun dengan penampilan yang tidak bisa dibilang luar biasa. Itu bertepatan dengan masa dimana standar permainan tim-tim Eropa sedang berada di titik terendah. (Sekedar pengingat: juara piala dunia 1982 adalah Italia dengan permainan Catenaccio yang menjemukan, sedangkan juara piala dunia 1986 bukanlah tim Eropa, tapi Argentina) 
Tahun-tahun kejayaan Liverpool di Eropa saat itu didapatkan saat menghadapi tim-tim antah barantah seperti Crusaders dari Irlandia Utara, Oulu Palloseura dari Finlandia, Trabzonspor dari Turki, dan beberapa tim pemenang liga kelas dua di Eropa. Reputasi kehebatan Liverpool di Eropa terlalu dibesar-besarkan, dan saya pikir para Liverpudlians yang lebih tua menyadari hal tersebut. Lima gelar Eropa dan delapan belas gelar liga mereka memang pencapaian yang hebat, tapi berapakah gelar liga dan gelar Eropa yang akan diraih United jika The Busby Babes tidak meninggal di Munich? Ini bukanlah sebuah khayalan romantis. Tanyakan pada setiap fan sepakbola dan siapapun yang terlibat di permainan ini saat itu, mereka semua akan berkata bahwa tim Busby Babes adalah yang terbaik sepanjang masa.
United adalah hikayat teragung sebuah klub sepakbola. Tradisi, sejarah, gaya bermain, menang maupun kalah, telah menambatkan United pada hati jutaan orang. Ok, Liverpool mungkin sedikit lebih sukses dalam hal gelar, terutama di Eropa. Tapi saya berani mempertaruhkan rumah saya bahwa United akan mencapai gelar liga ke 20 terlebih dahulu, dan tambahkan lagi… 10 trofi Liga Champion di masa depan. United We Stand!

Follow Terry Christian: @terrychristian