Tampilkan postingan dengan label My Stuff. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Stuff. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Maret 2014

MENIMBANG MASA DEPAN THE CHOSEN ONE





Sudah bukan rahasia lagi jika selama ini saya dikenal selalu mendukung David Moyes. Beberapa teman sampai berseloroh bahwa saya sudah seperti pengacara Moyes yang akan selalu vokal dalam membela kliennya, meski sebenarnya yang saya lakukan hanyalah coba untuk bersikap proporsional sambil menjalankan pesan Fergie untuk "stand by our new manager."

Ketika Moyes resmi didaulat menjadi bos baru di Old Trafford, kita tahu jika masa transisi yang sulit akan segera menghampiri klub dan juga fans. Menggantikan peran manajer yang sebelumnya cukup sukses bukanlah pekerjaan yang mudah, apalagi menggantikan salah satu manajer terhebat sepanjang masa.

Dalam artikel terdahulu saya sudah menyatakan dukungan terhadap Moyes jauh sebelum Fergie pensiun karena saya merasa sosok Moyes mirip dengan Fergie serta sesuai dengan etos dan karakter klub, satu hal yang diluar dugaan juga diamini fan City. Meskipun begitu saya sadar betul jika Moyes mempunyai satu kekurangan yang di mata sebagian besar fans tidak terampuni: nihil prestasi.

Cacat terbesar Moyes tersebut sepertinya tidak menjadi halangan bagi klub dan khususnya Fergie untuk menunjuk --bukan lagi menawarkan-- Moyes sebagai suksesornya. Kontrak jangka panjang berdurasi 6 tahun yang diberikan mengindikasikan kepercayaan penuh klub pada pria asal Bearsden Skotlandia itu untuk meneruskan kejayaan United.

Moyes pun mengawali tugasnya dengan baik, memberi gelar Community Shield ke-20 United serta memulai kompetisi di puncak klasemen setelah menghajar tuan rumah Swansea City 4-1. Nama David Moyes makin lantang dinyanyikan dan banner The Chosen One pun dibentangkan, fans mulai berpikir bahwa sepertinya masa transisi akan berjalan dengan mulus.


Sampai kemudian datanglah apa yang selama ini dikhawatirkan. Pekan demi pekan, pertandingan demi pertandingan, hasil buruk mulai terus ditorehkan. Tercecer dalam persaingan di Premier League, gugur di dua piala domestik, sampai yang terakhir kalah dari Olympiakos di Champions League. Semua itu diperburuk dengan gaya permainan monoton yang ditampilkan pria-pria linglung tanpa semangat juang serta diselingi pula oleh beberapa komentar konyol dan basi dari Moyes sendiri di depan media.


Lantas siapa yang salah? tak ada yang paling mudah jika terjadi masalah selain mencari kambing hitam, dan mayoritas fans pasti akan langsung menunjuk Moyes. Well, saya sepakat. Manajer adalah orang yang paling bertanggung jawab terhadap kinerja tim dan Moyes jelas punya peranan atas hasil negatif sejauh ini, entah lewat kesalahan strateginya atau dalam hal pemilihan pemain. Tapi tentu saja kesalahan tidak layak dibebankan sepenuhnya pada Moyes, para pemain jelas juga punya andil dan itu diakui sendiri oleh mereka.

Mengenai hal ini, saya ingin mengajak anda sejenak untuk melihat apa yang terjadi pada Liverpool 23 tahun yang lalu --tepatnya di musim 1990/91. Saat itu Liverpool yang dilatih Kenny Dalglish merupakan juara bertahan dan sampai awal paruh kedua musim masih memimpin klasemen dengan keunggulan 3 poin atas Arsenal. Bencana mulai datang saat Dalglish tiba-tiba memutuskan untuk mundur di bulan Februari karena alasan kesehatan. Liverpool kemudian menunjuk Graeme Souness untuk menggantikan Dalglish dan pada akhirnya mereka harus puas mengakhiri musim di posisi runner-up setelah tertinggal 7 poin dari sang juara Arsenal. Souness kemudian memimpin Liverpool selama 3 musim berikutnya dan hanya berhasil mempersembahkan 1 gelar FA Cup dengan tanpa sekalipun menyentuh posisi 4 besar di liga. Masa-masa dipegang Souness merupakan awal runtuhnya dominasi Liverpool di Inggris dan mereka belum bisa bangkit lagi sampai saat ini. (itulah kenapa fans Liverpool sekarang kerap mengejek fans United dengan berkata: "Moyes is your Souness, so welcome to your Souness era!")


Yang perlu kita cermati disini adalah sebelum ditunjuk Liverpool, Souness sudah sangat sukses sebagai player-manager di Celtic dengan 3 kali menjuarai liga Skotlandia dan 4 Scottish League Cup, tambahkan lagi bahwa dia adalah seorang legenda Liverpool yang pastinya sudah sangat paham dengan karakteristik klub, tapi toh dia tetap gagal mempertahankan kejayaan Liverpool.

Mengapa Souness gagal? bukankah dia diwarisi skuat juara oleh Dalglish dan dia sendiri juga telah berpengalaman menjadi juara? jawabannya sederhana, karena Souness diwarisi skuat juara yang sudah menua dan melewati puncak permainannya serta yang paling utama adalah karena para pemain terlihat seperti tidak ingin bermain untuk Souness.


Salah satu pemain Liverpool saat itu, John Barnes mengungkapkan pendapatnya, "Ketika Graeme Souness datang suasana menjadi berbeda, mental pemain seperti berubah dan mereka tidak lagi tampil all out. Para pemain tahu betul jika tim mendapat hasil buruk maka yang akan disalahkan adalah manajer sehingga mereka seperti merasa lepas dari tanggung jawab." Barnes kemudian mengaitkan kondisi Liverpool saat itu dengan kondisi United sekarang, "Apa yang terjadi di United saat ini mirip dengan kondisi kami dulu. Maka jika sekarang pemain United tidak tampil sebaik saat masih dipimpin Fergie, itu bukanlah cerminan total dari jeleknya manajer baru. Mereka seharusnya bertanya pada diri mereka sendiri: 'Jika dulu saya bisa tampil bagus mengapa sekarang harus berubah?' Ini adalah persoalan mental."

Saya tidak bisa lebih setuju lagi dengan Barnes. Dia telah merasakan sendiri berada dalam sebuah tim hebat yang kemudian hancur. Apa yang dikatakannya adalah benar. Bukankah sekarang kita melihat para pemain United terlihat begitu kikuk saat tampil di lapangan dan bermain nyaris tanpa semangat juang sehebat dulu? Semua terlihat jelas dari sikap dan gerak-gerik mereka.


Banyak fans begitu silau dengan pencapaian gelar juara yang diraih dengan keunggulan 11 angka di musim lalu sehingga mereka pikir seharusnya Moyes bisa dengan mudah menjalankan tugasnya. Mereka seperti lupa atau menutup mata bahwa skuat yang kita punya sebenarnya berisi kumpulan pemain yang masih jauh dari peak performance mereka atau malah sudah habis masanya, dengan sebagiannya lagi berkualitas biasa saja.


Dengan kejeniusannya, Fergie mungkin merasa cukup dengan skuat yang berisi pemain yang sudah habis seperti Evra atau Rio, pemain satu kaki seperti Valencia, pemain labil seperti Nani, pemain tambun seperti Anderson, pemain dengan skill standar seperti Cleverley, serta pemain dengan skill misterius seperti Young. Fergie bisa meracik semuanya menjadi sekumpulan juara. Tentu saja kita tidak bisa mengharapkan hal yang sama langsung bisa dilakukan Moyes di musim pertamanya, tambahkan lagi dengan faktor non-teknis seperti mental dan keengganan bermain optimal demi sang manajer baru seperti yang dialami Liverpool dulu.

Maka hal terbaik yang bisa dilakukan pihak klub dan juga fans adalah memberikan Moyes waktu untuk membuktikan kapasitasnya. Biarkan dia membangun kembali tim, membuang pemain yang sudah habis atau enggan bermain untuknya, membeli pemain yang dibutuhkan, dan mengembangkan skema permainan yang tepat.

Saya mengerti bahwa sepakbola modern tidak lagi menyediakan banyak waktu untuk membiarkan seorang manajer bekerja dengan tenang. Kita tidak bisa lagi berharap Moyes akan diberikan waktu selama yang Fergie rasakan dulu. Tapi tetap saja tidak adil jika kita memberikan waktu semusim atau bahkan kurang dari itu. We are not Chelsea and surely we don't want to be like them. Saya pikir setidaknya 2 musim adalah waktu yang cukup fair untuk diberikan pada Moyes meski tentu saja brigade Moyes out tidak akan setuju dan akan menentangnya habis-habisan.


Di sekolah tempat saya mengajar, saya mempunyai beberapa orang murid berprestasi yang juga menggemari United dan mereka termasuk ke dalam brigade Moyes out garis keras. Suatu hari saya memberi mereka 50 soal simulasi ujian masuk perguruan tinggi negeri yang sulit dan meminta mereka untuk menyelesaikannya dalam waktu 15 menit atau jika tidak saya akan menganggap mereka sebagai siswa yang payah dan tidak layak untuk kuliah di perguruan tinggi favorit. Spontan mereka langsung bereaksi dengan berkata, "Yang benar saja pak?! Masak kami harus menyelesaikan soal sebanyak dan sesulit itu dalam waktu 15 menit dan kalau gagal langsung dianggap payah? Gak fair itu namanya!" Sambil tergelak saya pun menanggapi mereka, "Hehe... See? Secerdas atau sehebat apapun kita, tetap saja kita membutuhkan waktu untuk mengerjakan dan menyelesaikan hal yang sulit... begitu juga Moyes, he definitely needs time." Menyadari sindiran dan arah pembicaraan saya, mereka pun hanya bisa cengar-cengir dan menggerutu.

Kita memang seringkali begitu, menuntut seseorang melakukan sesuatu seperti yang kita mau tanpa sadar bahwa kita pun belum tentu sanggup jika dituntut hal yang sama. Moyes tidak sejenius Mourinho atau segemilang Klopp, dia juga tidak sehebat Guardiola, tapi ini makin menunjukkan kalau Moyes harus diberikan waktu yang cukup untuk membuktikan kapasitasnya. Maka berhentilah berandai-andai dan tetaplah berdiri dibelakangnya. Tak ada yang salah dalam mendukung Moyes, jika dia sukses maka memang itulah yang kita inginkan, tapi jika dia gagal maka setidaknya kita sudah menjalankan tugas sebagai fans untuk selalu memberikan dukungan dalam suka maupun duka.

Ah, tapi sudahlah... menginginkan Moyes out saat ini adalah pilihan yang paling populer dan akan membuat anda terlihat cerdas ketimbang memberikan dukungan yang hanya akan membuat pelakunya terlihat bodoh meskipun itu dilakukan oleh Gary Neville, legenda klub yang juga menjadi seorang pundit paling brilian saat ini.

Bukankah dalam sepakbola fans memang selalu jadi yang paling pintar dan tahu segalanya?


Selasa, 14 Januari 2014

BENARKAH ADA KONSPIRASI UNTUK MEMBELA UNITED?




Selain amat menggilai sejarah, fans Liverpool juga terkenal akan kegemarannya pada teori konspirasi. Bukan... bukan teori tentang Illuminati, Freemasonry, Area 51, atau yang sejenisnya, tapi teori konspirasi tentang korps baju hitam yang selalu membela rival abadi mereka, Manchester United. Liverpudlian secara ajaib percaya bahwa wasit telah berada di belakang semua kesuksesan United selama ini. Sepertinya seseorang belum bisa dikatakan sebagai fan Liverpool sejati jika tidak percaya pada teori konspirasi ini, keimanan pada teori tersebut layaknya seperti The Kop Pledge butir kelima yang tidak tertulis.
 



Diluar dugaan, seorang fan Liverpool bernama Jaimie Kanwar nekad menjadi pendosa dengan menolak beriman pada teori konspirasi sekaligus "membela" raja dari segala kejahatan, Manchester United. Berikut artikel dari Jaimie seperti yang ia tuliskan di liverpool-kop.com


Setiap kali Liverpool bermain melawan Manchester United, keputusan wasit terlihat selalu memihak United, dan ini adalah sebuah konspirasi untuk melawan kita. Pusat segala konspirasi busuk ini bermuara pada satu nama: Alex Ferguson. Kakek tua ini menggunakan segala kekuatannya untuk mempengaruhi wasit demi kemenangan United. Tuduhan ini terdengar familiar bukan?

Tidak ada cara untuk membuktikan tuduhan tersebut selain melihat kepada fakta yang objektif, seperti keputusan-keputusan wasit terhadap kedua tim dalam periode waktu tertentu. Maka dengan maksud untuk menganalisis hal ini, saya akan coba melihat pada: 

1. Keputusan-keputusan penting wasit sepanjang era Premier League (1992-2012)
2. Keputusan krusial seperti hukuman kartu dan hadiah penalti.

Saya bisa saja melihat pada keputusan pemberian tendangan bebas, sepak pojok, dan juga offside. Tetapi semua itu jarang menjadi perdebatan dalam 20 tahun terakhir, oleh karena itulah saya hanya akan coba fokus pada hukuman kartu dan hadiah penalti yang diberikan untuk kedua tim.

Saya belum melihat setiap keputusan yang seharusnya diberikan tapi tidak diberikan. Lagipula siapa yang bisa mutlak menentukan bahwa seharusnya suatu keputusan itu harus diberikan? itu terlalu subjektif dan karena itu tidak akan berguna dalam analisis ini.

Berikut ini adalah tabel yang saya buat yang mengkompilasi pertemuan Liverpool vs Manchester United sejak tahun 1992 sampai dengan 2012: 



Poin penting yang bisa disimpulkan dari tabel tersebut adalah:

- United menerima kartu kuning lebih banyak dari Liverpool.
- United juga menerima lebih banyak kartu merah.
- Liverpool mendapat penalti lebih banyak di Old Trafford ketimbang United ketika di Anfield.
- Secara rata-rata, United menerima lebih banyak hukuman kartu (kuning dan merah) ketimbang Liverpool.
- Wasit yang memimpin pertandingan Liverpool vs Manchester United sudah menjalankan tugasnya dengan sangat konsisten.
- Tidak ada bukti akurat yang menunjukkan bahwa wasit lebih berpihak pada United.
- Dimana sebenarnya bukti tuduhan dari konspirasi?

Saya yakin bahwa setelah menulis artikel ini banyak rekan sesama fans Liverpool akan mencela saya atau menuduh saya sebagai "fans United tersembunyi".

Yang jelas, disini bisa saya simpulkan bahwa konspirasi untuk membela United hanyalah omong kosong, semakin cepat isu ini hilang maka akan semakin baik.

Jaimie Kanwar


Itulah tulisan fans Liverpool yang secara objektif menilai bahwa isu konspirasi United tak lebih dari sekedar isu murahan. Sekedar tambahan dari saya, belum lama ini Opta Sports, penyedia data statistik olahraga paling terkemuka, lewat akun twitter-nya menyatakan bahwa Liverpool menjadi tim yang paling banyak mendapat hadiah penalti sepanjang sejarah Premier League, sebuah fakta yang tentu berbanding terbalik dari teori konspirasi yang diagungkan Liverpudlian selama ini. Well, tapi mungkin mereka akan menyatakan bahwa Opta adalah penyedia data yang invalid, di bawah kendali Alex Ferguson, dan kelihatannya minggu depan mereka akan segera mengkampanyekan gerakan "Don't Trust Opta!" karena takdir Tuhan sudah menetapkan bahwa Liverpool adalah tim tanpa dosa yang selalu menjadi korban, bukankah begitu?





Kembali ke artikel Jaimie, Liverpudlian mungkin bisa berkilah bahwa data dari tulisan tersebut tidaklah lengkap karena hanya fokus pada duel Liverpool vs United saja dan tidak menyeluruh pada pertandingan-pertandingan lain yang dijalankan United, tetapi itu bisa dibantah dengan mudah: jika memang mereka masih percaya akan adanya konspirasi, maka silakan tunjukkan data dan bukti valid dari tuduhan mereka tersebut. Dalam hukum dinyatakan bahwa orang yang menuduh harus membuktikan tuduhannya pertama kali, bukan sebaliknya, Jadi jika fans Liverpool bisa sedikit saja cerdas, seharusnya mereka lah yang mesti menunjukkan bukti otentik kebenaran teori konspirasi tersebut pertama kali, bukan malah fans United yang lebih dulu membantahnya.

Ah, sudahlah... berharap fans Liverpool bisa mempunyai sedikit kecerdasan seperti Jaimie? rasanya saya terlalu berlebihan.

It's never their fault after all.




Kamis, 26 Desember 2013

REDS IN BOXING DAY





Penggemar Liga Inggris tentu tidak asing lagi dengan istilah Boxing Day. Yup, meski sebenarnya hanyalah sebuah pertandingan liga biasa, Boxing Day match dianggap istimewa karena digelar persis setelah hari Natal dan tim yang menduduki posisi puncak saat itu kerap diprediksi akan menjadi juara di akhir musim. Nah, sebelum saya membahas catatan dan sejarah Manchester United di Boxing Day, ada baiknya saya ceritakan sekilas sejarah Boxing Day, in case you forget.




Boxing Day adalah hari perayaan setelah Natal yang biasanya dirayakan setiap tanggal 26 Desember sejak abad pertengahan, khususnya di Inggris Raya dan negara-negara jajahan Inggris (persemakmuran) seperti Australia, Selandia Baru, Hong Kong, Afrika Selatan, dan Kanada. Di Irlandia, Boxing Day sering juga disebut sebagai St. Stephen's Day, sementara di negara-negara Eropa lainnya, Boxing Day dikenal dengan istilah Second Christmas Day.




Pada hakikatnya perayaan Boxing Day ini adalah saat-saat dimana setiap orang saling memberi kado (box), khususnya kepada yang membutuhkan atau yang statusnya lebih rendah, misalnya bos yang memberi kado kepada bawahannya. Istilah Boxing Day juga dianggap berasal dari tradisi dimana sebuah kotak (box) besi diletakkan khusus di depan gereja sebagai wadah amal yang hasilnya akan diserahkan kepada yang membutuhkan.



Di era modern, Boxing Day sering disebut juga dengan shopping day, karena saat itu mal dan toko-toko memberi diskon gila-gilaan kepada para konsumennya. Yang lebih mengasyikkan adalah Boxing Day masih dihitung sebagai hari libur nasional di negara-negara yang merayakannya.




Di ajang olahraga, khususnya sepakbola, Boxing Day dirayakan dengan tetap diadakannya pertandingan liga mulai dari divisi tertinggi sampai ke kasta terendah. Negara-negara yang menggelar Boxing Day match adalah Inggris, Skotlandia, Irlandia, dan Australia.

 



Pada awalnya syarat Boxing Day match adalah mempertemukan tim-tim yang wilayahnya berdekatan agar fans tidak perlu menjalani perjalanan yang jauh di hari raya, tetapi semakin rumit dan padatnya jadwal sepakbola modern membuat syarat tidak tertulis ini tidak lagi terlalu diindahkan. Meski sudah sering diprotes (khususnya oleh manajer asing), Boxing Day sendiri akan terus dijalankan di Premier League karena ini merupakan tradisi yang telah turun temurun dan menjadi ciri khas tersendiri yang membedakan dengan liga elite Eropa lainnya.


Sekarang kita kembali ke United. Sebagaimana tim Inggris lainnya, United juga mempunyai sejarah dan catatannya sendiri saat Boxing Day, dan syukurnya, catatan tersebut adalah catatan yang cukup bagus.

Berikut catatan lengkap Manchester United di Boxing Day:

1. Dari catatan tertua yang berhasil didokumentasikan, United menjalani Boxing Day match pertamanya di musim 1892/93 saat melawan tuan rumah Preston North End, sayangnya saat itu United yang masih bernama Newton Heath harus takluk 1-2.




2. Total sampai dengan musim 2012/13, United telah melakoni laga Boxing Day sebanyak 112 kali, dengan catatan 63 kali menang, 20 kali seri, dan hanya 29 kali kalah.



3. Dari 112 laga Boxing Day tersebut, United lebih banyak menjadi tuan rumah dengan 58 pertandingan home berbanding 54 pertandingan away. Kemudian sebanyak 84 pertandingan berlangsung di Divisi Satu (Premier League), 22 pertandingan di Divisi Dua, dan 6 pertandingan berlangsung di masa perang saat liga dihentikan.



4. Liverpool dan Everton menjadi lawan yang paling sering dihadapi United saat Boxing Day dengan masing-masing 7 kali pertemuan. Faktor jarak kota Manchester dan Liverpool yang cuma sekitar 54 km (sekitar 45 menit perjalanan) tentu menjadi alasan utama.



5. Berikut detail lengkap 112 laga United di Boxing Day berikut posisi saat Boxing Day dan posisi saat akhir musim: (klik gambar untuk memperbesar tabel)

a) Boxing Day dekade 1890an: main 6, menang 4, seri 0, kalah 2.



note: musim 1892/93 adalah musim pertama United bermain saat Boxing Day, kemudian di musim 1893/94 dan 1895/96 United tidak mempunyai jadwal pertandingan di Boxing Day.

b) Boxing Day dekade 1900an: main 10, menang 4, seri 3, kalah 3.


c) Boxing Day dekade 1910an: main 6, menang 3, seri 2, kalah 1.


note: musim 1915/16 sampai dengan 1918/19, liga dihentikan karena meletusnya Perang Dunia pertama.

d) Boxing Day dekade 1920an: main 10, menang 5, seri 2, kalah 3.



e) Boxing Day dekade 1930an: main 8, menang 3, seri 1, kalah 4.



note: di musim 1930/31 dan 1939/40, United tidak mempunyai jadwal pertandingan saat Boxing Day.

f) Boxing Day dekade 1940an: main 10, menang 8, seri 1, kalah 1.


note: antara musim 1940/41 sampai dengan 1945/46, liga dihentikan karena meletusnya Perang Dunia kedua, saat itu United hanya mengikuti liga di masa perang yang tidak resmi sehingga posisi klasemen tidak dapat ditentukan.

g) Boxing Day dekade 1950an: main 10, menang 5, seri 2, kalah 3.


h) Boxing Day dekade 1960an: main 10, menang 5, seri 2, kalah 3.



i) Boxing Day dekade 1970an: main 10, menang 4, seri 2, kalah 4.
 


j) Boxing Day dekade 1980an: main 9, menang 2, seri 3, kalah 4.


note: jadwal Boxing Day musim 1981/82 ditiadakan karena cuaca buruk. Dan well, dekade 1980an ini juga menjadi era terburuk United saat Boxing Day.

k) Boxing Day dekade 1990an: main 10, menang 8, seri 2, kalah 0.
 

note: Boxing Day dekade 1990an menjadi era terbaik United saat Boxing Day dengan tidak terkalahkan dalam 10 pertandingan dan berhasil memenangi 8 diantaranya.

l) Boxing Day dekade 2000an: main 10, menang 9, seri 0, kalah 1.



m) Boxing Day dekade 2010an (sampai artikel ini dibuat): main 3, menang 3, seri 0, kalah 0.




6. Dari 20 laga Boxing Day saat menjuarai liga, United berhasil memenangi 15 diantaranya, 3 kali seri, dan hanya 2 kali kalah.

 

7. Dari 20 gelar liga yang diraih United, 12 diantaranya diraih United ketika menduduki puncak klasemen saat Boxing Day.



8. Sebaliknya, United tercatat 6 kali gagal menjuarai liga saat menduduki puncak klasemen di Boxing Day.


9. United mempunyai trend yang bagus berkaitan dengan perbandingan posisi klasemen saat Boxing Day dengan saat di akhir musim. United tercatat 48 kali memperoleh peringkat yang lebih baik di akhir musim ketimbang saat di Boxing Day. (persentase = 45%)

10. Sebaliknya United tercatat 34 kali meraih peringkat yang lebih buruk di akhir musim ketimbang peringkat saat Boxing Day. (persentase = 32%)

11. Sementara United tercatat 24 kali mendapatkan peringkat yang sama di akhir musim dengan peringkat saat Boxing Day. (persentase = 22%)

12. Catatan terbaik United di Boxing Day adalah saat menang 7-0 atas Grimsby Town di Boxing Day musim 1899/00. Sementara di era Premier League, torehan terbaik United adalah saat memukul Wigan Athletic 5-0 di Old Trafford pada Boxing Day 2011/12.




13. Catatan terburuk United di Boxing Day adalah saat kalah 0-7 dari Wolverhampton Wanderers di Boxing Day musim 1931/32. Sementara di era Premier League, catatan terburuk United terjadi saat takluk 1-3 dari Middlesbrough di Boxing Day musim 2002/03.




14. Kekalahan atas Middlesbrough tersebut menjadi kekalahan terakhir United di Boxing Day, dimana sejak saat itu United selalu menang, terakhir di musim 2012/13 lalu kala menang dramatis 4-3 atas Newcastle United.




Sekarang kita beralih ke catatan para manajer United saat Boxing Day.

15. Manajer dengan rekor Boxing Day terbaik tentu saja adalah Sir Alex Ferguson. Dari 27 laga Boxing Day, Sir Alex berhasil membawa United meraih 22 kali kemenangan, 2 kali imbang, dan hanya 3 kali kalah. Tambahkan lagi fakta bahwa laga debut Boxing Day Fergie adalah saat mengalahkan Liverpool 1-0 di Anfield saat Boxing Day musim 1986/87.



16. Berbicara soal laga debut Boxing Day, manajer United terbaik yang melakukannya adalah Dave Sexton dimana ia berhasil membawa United membantai Everton 6-2 di Goodison Park saat Boxing Day musim 1977/78.




17. Rekor terbaik kedua untuk laga Boxing Day dipegang Sir Matt Busby dengan catatan 24 kali main, 14 kali menang, 3 kali seri, dan 7 kali kalah. Meskipun demikian, Sir Matt mengawali debut Boxing Day nya dengan kurang baik saat United kalah 2-3 dari Sheffield United di Old Trafford pada Boxing Day musim 1945/46.



18. Sebelum menjadi manajer United, David Moyes memiliki rekor yang cukup bagus di laga Boxing Day baik bersama Preston North End maupun Everton.



Di Preston, Moyes tidak terkalahkan dalam 4 laga Boxing Day dengan catatan 3 kali menang dan sekali imbang.


Sementara di Everton dari 11 laga Boxing Day, Moyes berhasil meraih 4 kemenangan, 5 hasil imbang, dan 2 kekalahan dimana kekalahan terakhir terjadi di musim 2005/06 lalu saat The Toffees kalah 0-4 dari tuan rumah Aston Villa.



Dari semua poin yang telah saya jelaskan diatas, bisa disimpulkan bahwa United memiliki rekor yang bagus saat laga Boxing Day dimana United selalu menang dalam 10 musim terakhir dan begitu pula Moyes yang belum terkalahkan di hari raya pasca Natal tersebut dalam 8 musim terakhir.

So, mari berharap semoga rekor fantastis tersebut berlanjut sehingga kita bisa terus berteriak, "Boxing Day is a United Day!"