Tampilkan postingan dengan label Manager. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manager. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Maret 2014

MENIMBANG MASA DEPAN THE CHOSEN ONE





Sudah bukan rahasia lagi jika selama ini saya dikenal selalu mendukung David Moyes. Beberapa teman sampai berseloroh bahwa saya sudah seperti pengacara Moyes yang akan selalu vokal dalam membela kliennya, meski sebenarnya yang saya lakukan hanyalah coba untuk bersikap proporsional sambil menjalankan pesan Fergie untuk "stand by our new manager."

Ketika Moyes resmi didaulat menjadi bos baru di Old Trafford, kita tahu jika masa transisi yang sulit akan segera menghampiri klub dan juga fans. Menggantikan peran manajer yang sebelumnya cukup sukses bukanlah pekerjaan yang mudah, apalagi menggantikan salah satu manajer terhebat sepanjang masa.

Dalam artikel terdahulu saya sudah menyatakan dukungan terhadap Moyes jauh sebelum Fergie pensiun karena saya merasa sosok Moyes mirip dengan Fergie serta sesuai dengan etos dan karakter klub, satu hal yang diluar dugaan juga diamini fan City. Meskipun begitu saya sadar betul jika Moyes mempunyai satu kekurangan yang di mata sebagian besar fans tidak terampuni: nihil prestasi.

Cacat terbesar Moyes tersebut sepertinya tidak menjadi halangan bagi klub dan khususnya Fergie untuk menunjuk --bukan lagi menawarkan-- Moyes sebagai suksesornya. Kontrak jangka panjang berdurasi 6 tahun yang diberikan mengindikasikan kepercayaan penuh klub pada pria asal Bearsden Skotlandia itu untuk meneruskan kejayaan United.

Moyes pun mengawali tugasnya dengan baik, memberi gelar Community Shield ke-20 United serta memulai kompetisi di puncak klasemen setelah menghajar tuan rumah Swansea City 4-1. Nama David Moyes makin lantang dinyanyikan dan banner The Chosen One pun dibentangkan, fans mulai berpikir bahwa sepertinya masa transisi akan berjalan dengan mulus.


Sampai kemudian datanglah apa yang selama ini dikhawatirkan. Pekan demi pekan, pertandingan demi pertandingan, hasil buruk mulai terus ditorehkan. Tercecer dalam persaingan di Premier League, gugur di dua piala domestik, sampai yang terakhir kalah dari Olympiakos di Champions League. Semua itu diperburuk dengan gaya permainan monoton yang ditampilkan pria-pria linglung tanpa semangat juang serta diselingi pula oleh beberapa komentar konyol dan basi dari Moyes sendiri di depan media.


Lantas siapa yang salah? tak ada yang paling mudah jika terjadi masalah selain mencari kambing hitam, dan mayoritas fans pasti akan langsung menunjuk Moyes. Well, saya sepakat. Manajer adalah orang yang paling bertanggung jawab terhadap kinerja tim dan Moyes jelas punya peranan atas hasil negatif sejauh ini, entah lewat kesalahan strateginya atau dalam hal pemilihan pemain. Tapi tentu saja kesalahan tidak layak dibebankan sepenuhnya pada Moyes, para pemain jelas juga punya andil dan itu diakui sendiri oleh mereka.

Mengenai hal ini, saya ingin mengajak anda sejenak untuk melihat apa yang terjadi pada Liverpool 23 tahun yang lalu --tepatnya di musim 1990/91. Saat itu Liverpool yang dilatih Kenny Dalglish merupakan juara bertahan dan sampai awal paruh kedua musim masih memimpin klasemen dengan keunggulan 3 poin atas Arsenal. Bencana mulai datang saat Dalglish tiba-tiba memutuskan untuk mundur di bulan Februari karena alasan kesehatan. Liverpool kemudian menunjuk Graeme Souness untuk menggantikan Dalglish dan pada akhirnya mereka harus puas mengakhiri musim di posisi runner-up setelah tertinggal 7 poin dari sang juara Arsenal. Souness kemudian memimpin Liverpool selama 3 musim berikutnya dan hanya berhasil mempersembahkan 1 gelar FA Cup dengan tanpa sekalipun menyentuh posisi 4 besar di liga. Masa-masa dipegang Souness merupakan awal runtuhnya dominasi Liverpool di Inggris dan mereka belum bisa bangkit lagi sampai saat ini. (itulah kenapa fans Liverpool sekarang kerap mengejek fans United dengan berkata: "Moyes is your Souness, so welcome to your Souness era!")


Yang perlu kita cermati disini adalah sebelum ditunjuk Liverpool, Souness sudah sangat sukses sebagai player-manager di Celtic dengan 3 kali menjuarai liga Skotlandia dan 4 Scottish League Cup, tambahkan lagi bahwa dia adalah seorang legenda Liverpool yang pastinya sudah sangat paham dengan karakteristik klub, tapi toh dia tetap gagal mempertahankan kejayaan Liverpool.

Mengapa Souness gagal? bukankah dia diwarisi skuat juara oleh Dalglish dan dia sendiri juga telah berpengalaman menjadi juara? jawabannya sederhana, karena Souness diwarisi skuat juara yang sudah menua dan melewati puncak permainannya serta yang paling utama adalah karena para pemain terlihat seperti tidak ingin bermain untuk Souness.


Salah satu pemain Liverpool saat itu, John Barnes mengungkapkan pendapatnya, "Ketika Graeme Souness datang suasana menjadi berbeda, mental pemain seperti berubah dan mereka tidak lagi tampil all out. Para pemain tahu betul jika tim mendapat hasil buruk maka yang akan disalahkan adalah manajer sehingga mereka seperti merasa lepas dari tanggung jawab." Barnes kemudian mengaitkan kondisi Liverpool saat itu dengan kondisi United sekarang, "Apa yang terjadi di United saat ini mirip dengan kondisi kami dulu. Maka jika sekarang pemain United tidak tampil sebaik saat masih dipimpin Fergie, itu bukanlah cerminan total dari jeleknya manajer baru. Mereka seharusnya bertanya pada diri mereka sendiri: 'Jika dulu saya bisa tampil bagus mengapa sekarang harus berubah?' Ini adalah persoalan mental."

Saya tidak bisa lebih setuju lagi dengan Barnes. Dia telah merasakan sendiri berada dalam sebuah tim hebat yang kemudian hancur. Apa yang dikatakannya adalah benar. Bukankah sekarang kita melihat para pemain United terlihat begitu kikuk saat tampil di lapangan dan bermain nyaris tanpa semangat juang sehebat dulu? Semua terlihat jelas dari sikap dan gerak-gerik mereka.


Banyak fans begitu silau dengan pencapaian gelar juara yang diraih dengan keunggulan 11 angka di musim lalu sehingga mereka pikir seharusnya Moyes bisa dengan mudah menjalankan tugasnya. Mereka seperti lupa atau menutup mata bahwa skuat yang kita punya sebenarnya berisi kumpulan pemain yang masih jauh dari peak performance mereka atau malah sudah habis masanya, dengan sebagiannya lagi berkualitas biasa saja.


Dengan kejeniusannya, Fergie mungkin merasa cukup dengan skuat yang berisi pemain yang sudah habis seperti Evra atau Rio, pemain satu kaki seperti Valencia, pemain labil seperti Nani, pemain tambun seperti Anderson, pemain dengan skill standar seperti Cleverley, serta pemain dengan skill misterius seperti Young. Fergie bisa meracik semuanya menjadi sekumpulan juara. Tentu saja kita tidak bisa mengharapkan hal yang sama langsung bisa dilakukan Moyes di musim pertamanya, tambahkan lagi dengan faktor non-teknis seperti mental dan keengganan bermain optimal demi sang manajer baru seperti yang dialami Liverpool dulu.

Maka hal terbaik yang bisa dilakukan pihak klub dan juga fans adalah memberikan Moyes waktu untuk membuktikan kapasitasnya. Biarkan dia membangun kembali tim, membuang pemain yang sudah habis atau enggan bermain untuknya, membeli pemain yang dibutuhkan, dan mengembangkan skema permainan yang tepat.

Saya mengerti bahwa sepakbola modern tidak lagi menyediakan banyak waktu untuk membiarkan seorang manajer bekerja dengan tenang. Kita tidak bisa lagi berharap Moyes akan diberikan waktu selama yang Fergie rasakan dulu. Tapi tetap saja tidak adil jika kita memberikan waktu semusim atau bahkan kurang dari itu. We are not Chelsea and surely we don't want to be like them. Saya pikir setidaknya 2 musim adalah waktu yang cukup fair untuk diberikan pada Moyes meski tentu saja brigade Moyes out tidak akan setuju dan akan menentangnya habis-habisan.


Di sekolah tempat saya mengajar, saya mempunyai beberapa orang murid berprestasi yang juga menggemari United dan mereka termasuk ke dalam brigade Moyes out garis keras. Suatu hari saya memberi mereka 50 soal simulasi ujian masuk perguruan tinggi negeri yang sulit dan meminta mereka untuk menyelesaikannya dalam waktu 15 menit atau jika tidak saya akan menganggap mereka sebagai siswa yang payah dan tidak layak untuk kuliah di perguruan tinggi favorit. Spontan mereka langsung bereaksi dengan berkata, "Yang benar saja pak?! Masak kami harus menyelesaikan soal sebanyak dan sesulit itu dalam waktu 15 menit dan kalau gagal langsung dianggap payah? Gak fair itu namanya!" Sambil tergelak saya pun menanggapi mereka, "Hehe... See? Secerdas atau sehebat apapun kita, tetap saja kita membutuhkan waktu untuk mengerjakan dan menyelesaikan hal yang sulit... begitu juga Moyes, he definitely needs time." Menyadari sindiran dan arah pembicaraan saya, mereka pun hanya bisa cengar-cengir dan menggerutu.

Kita memang seringkali begitu, menuntut seseorang melakukan sesuatu seperti yang kita mau tanpa sadar bahwa kita pun belum tentu sanggup jika dituntut hal yang sama. Moyes tidak sejenius Mourinho atau segemilang Klopp, dia juga tidak sehebat Guardiola, tapi ini makin menunjukkan kalau Moyes harus diberikan waktu yang cukup untuk membuktikan kapasitasnya. Maka berhentilah berandai-andai dan tetaplah berdiri dibelakangnya. Tak ada yang salah dalam mendukung Moyes, jika dia sukses maka memang itulah yang kita inginkan, tapi jika dia gagal maka setidaknya kita sudah menjalankan tugas sebagai fans untuk selalu memberikan dukungan dalam suka maupun duka.

Ah, tapi sudahlah... menginginkan Moyes out saat ini adalah pilihan yang paling populer dan akan membuat anda terlihat cerdas ketimbang memberikan dukungan yang hanya akan membuat pelakunya terlihat bodoh meskipun itu dilakukan oleh Gary Neville, legenda klub yang juga menjadi seorang pundit paling brilian saat ini.

Bukankah dalam sepakbola fans memang selalu jadi yang paling pintar dan tahu segalanya?


Rabu, 11 Desember 2013

MOYES MEMANG SEHARUSNYA OUT..........




Jika dibuat satu jenis daftar pekerjaan yang paling sulit di dunia saat ini, menjadi manajer Manchester United pengganti Sir Alex Ferguson pastilah masuk tiga besar, dan David Moyes --dengan segala keterbatasannya-- berani maju untuk menerima pekerjaan maha berat tersebut dengan restu Fergie dan Sir Bobby Charlton, dua sosok yang di setiap nadinya mengalir darah Manchester United.

Berbekal seribu doa dan sejuta ragu dari fans, Moyes mulai menjalani hari-harinya sebagai suksesor manajer terhebat sepanjang masa, dan seperti yang sudah diduga, perjalanannya tidak mulus. Hasil yang turun-naik dan performa yang jauh dari memuaskan tak pelak membuat fans mulai terbagi ke dalam dua kubu: pro Moyes dan anti Moyes.



Fans yang membela Moyes berargumen kalau saat ini United sedang memasuki masa transisi sehingga apapun yang terjadi sudah seharusnya fans terus mendukung sang manajer baru. Slogan "In Moyes we trust" serta kutipan pidato terakhir Sir Alex agar fans selalu "Stand by our new manager" dipegang dengan teguh. Sementara mereka yang menentang Moyes --dengan tagline "Moyes Out!" yang sangat menggetarkan itu-- beranggapan bahwa sudah seharusnya Moyes melaju kencang bersama United, tanpa perlu adanya masa transisi yang berarti, karena skuat yang ia miliki adalah skuat juara.

Perdebatan dua kubu ini adalah sebuah keniscayaan, tapi semakin hari semakin terlihat memuakkan.

So, apakah memang Moyes tidak seharusnya menjalani masa transisi yang begitu lama? Let's figure it out, saat Fergie mulai menangani United 27 tahun yang lalu, ia butuh waktu sampai 4 tahun untuk membangun ulang tim dan bisa menjuarai trofi pertamanya. Sampai disini, kalian para brigade #MoyesOut pasti akan langsung membantah dengan argumen bahwa skuat awal Fergie dulu bukanlah skuat juara dan bahwa sepakbola masa lalu dan masa sekarang telah jauh berbeda. Well, pendapat kalian mungkin benar, tapi tidak sepenuhnya benar.

Jika dilihat lebih jauh, pencapaian skuat United warisan Ron Atkinson tidaklah seburuk yang dibayangkan. Tim United saat itu adalah tim yang telah 2 kali menjuarai FA Cup dan tidak pernah keluar dari posisi empat besar di liga. 



Di musim 1985/86, United bahkan terus memimpin klasemen sampai bulan Februari sebelum rentetan hasil mengecewakan di akhir musim membuat mereka harus puas finish di peringkat 4. Tekanan untuk menjuarai liga membuat Atkinson akhirnya dipecat di awal musim 1986/87 setelah United terpuruk di peringkat 19 pada bulan November. Yang perlu digarisbawahi disini adalah pihak klub memecat Big Ron di musim keenamnya bersama United, bukan musim pertama.


Fergie kemudian melanjutkan tugas Big Ron di sisa musim 1986/87 dengan membawa United menduduki peringkat 11. Setelah sempat memberi harapan kepada fans dengan membawa United menjadi runner-up di musim 1987/88, United asuhan Fergie terjun bebas ke posisi 11 di musim 1988/89, dan posisi 13 di musim 1989/90. Fans mulai kehilangan kesabaran dan pemecatan sudah di depan mata jika United kalah dari Nottingham Forest di babak ketiga FA Cup, beruntung gol Mark Robins membawa United menang dan pada akhirnya trofi FA Cup berhasil dipersembahkan Fergie. Lagi-lagi yang perlu digarisbawahi disini adalah seandainya Fergie jadi dipecat saat itu, berarti pihak klub memutuskan untuk memecat Fergie di musim keempatnya bersama United, bukan musim pertama.



Sampai disini bisa disimpulkan tiga hal: Pertama, United bukanlah tipikal klub yang dengan mudahnya mengganti manajer sebelum memberinya cukup kesempatan. (Dalam hal ini, United belajar banyak dari kasus singkatnya karir manajerial Wilf McGuinness dan Frank O'Farrell yang berujung pada ketidakstabilan klub). Kedua, dalam kondisi apapun, selalu ada tekanan besar bagi siapapun yang menjadi manajer United. Ketiga, dan ini yang terpenting, United selalu menghargai masa transisi.

Sekarang mari kita lihat apakah cuma United yang memang membutuhkan masa transisi. Berikut akan saya paparkan fakta tentang beberapa masa transisi yang dijalani klub-klub besar lain setelah mereka ditinggal manajernya yang paling lama menjabat dan paling sukses.

AJ Auxerre
Well, ok... Auxerre memang bukan klub besar. Tetapi ceritanya harus saya tulis disini agar anda tahu betapa sulitnya menjalani masa transisi setelah dipimpin sekian lama oleh hanya seorang manajer. Auxerre terkenal karena manajernya, Guy Roux, tercatat sebagai manajer terlama yang memimpin sebuah klub di Eropa. Guy Roux memimpin AJ Auxerre selama 44 tahun (1961-2005) dan dalam kurun waktu tersebut berhasil mengubah Auxerre dari klub kecil menjadi klub yang cukup diperhitungkan dengan sekali menjuarai Liga Perancis serta 4 kali Piala Perancis. Penggantinya, Jacques Santini, gagal total dan hanya bertahan semusim. Sampai saat ini Auxerre belum berhasil untuk kembali ke level saat masih ditangani Guy Roux dahulu.
 
Rangers
Klub Skotlandia ini pernah dipimpin oleh Bill Struth selama 34 tahun (1920-1954). Dalam kurun waktu tersebut Struth sukses mempersembahkan 18 gelar juara Liga Skotlandia dan 10 gelar Piala Skotlandia. Struth pensiun pada tahun 1954 dan digantikan Scot Symon yang juga cukup sukses dengan meraih 15 trofi. Yang perlu dicatat adalah, Rangers hampa gelar saat Symon menjalani musim pertamanya.
 
Real Madrid
Klub ini memang doyan mengganti pelatih. Tetapi ada masa dimana El Real pernah cukup lama dipimpin oleh hanya seorang pelatih saja. Orang tersebut adalah Miguel Munoz. Ia menjadi pelatih terlama yang pernah menangani Real Madrid, yakni selama 14 tahun (1960-1974). Sepanjang periode tersebut Munoz sukses besar dengan diantaranya merengkuh 9 gelar La Liga dan 2 trofi Champions Cup. Munoz kemudian digantikan Luiz Molowny yang hanya bertahan empat bulan dan cuma mempersembahkan 1 gelar Copa del Rey. Sementara itu di era modern, Vicente del Bosque adalah pelatih terlama yang pernah melatih Madrid. Ia memimpin Madrid selama 4 tahun (1999-2003) dan sukses membawa El Real 4 kali juara La Liga dan 2 kali juara Champions League. Penggantinya, Carlos Queiroz, hanya bertahan semusim dan cuma mampu memenangi 1 Copa del Rey.

Barcelona 
Johan Cruyff memimpin Barcelona selama 8 tahun (1988-1996) dan memberikan 11 gelar untuk Barca, diantaranya adalah 4 gelar La Liga dan 1 trofi Champions League. Cruyff digantikan Bobby Robson yang cuma bertahan semusim dan hanya mampu membawa Barca meraih 1 trofi Cup Winners' Cup dan 1 Copa del Rey. Di era millenium, pelatih terlama yang memimpin Barca adalah Frank Rijkaard, ia berada di Camp Nou selama 5 tahun (2003-2008) dan berhasil mempersembahkan 2 gelar La Liga serta 1 trofi Champions League. Tugas Rijkaard diteruskan oleh Pep Guardiola yang sangat sukses, tapi kita tahu bahwa sebelumnya Pep merupakan pelatih Barcelona B, kesuksesannya sangat terbantu oleh fakta bahwa dirinya adalah orang dalam yang sudah sangat mengenal seluk-beluk tim yang dilatihnya.

Inter Milan
Helenio Herrera menangani Inter selama 8 tahun (1960-1968) dan berhasil mempersembahkan 3 gelar Serie A dan 2 trofi Champions Cup. Herrera digantikan Alfredo Foni yang gagal dan cuma bertahan satu musim. 

Juventus
Giovanni Trapattoni menjadi pelatih Juventus selama 10 tahun (1976-1986) dan sukses membawa Juventus meraih 6 gelar Serie A dan 1 trofi Champions Cup. Trapattoni lalu digantikan Rino Marchesi yang kemudian tidak berhasil memenangi satu gelar pun.

AC Milan
Carlo Ancelotti melatih AC Milan selama 8 tahun (2001-2009) dan sukses membawa Milan meraih 9 gelar, diantaranya adalah 1 gelar Serie A dan 2 Champions League. Pengganti Ancelotti adalah Leonardo yang gagal mempersembahkan satu gelar pun.

Liverpool
Jika ada satu pujian yang bisa saya berikan pada tim Merseyside ini, maka pastilah itu tentang proses transisi mereka yang begitu mulus di era 70 dan 80an. Seingat saya, tak ada proses transisi di klub besar yang begitu rapih daripada Liverpool. Bill Shankly menjadi manajer Liverpool selama 15 tahun (1959-1974) dan berhasil memberikan 3 gelar liga, 2 FA Cup, dan 1 UEFA Cup. Shankly kemudian pensiun dan digantikan oleh asistennya, Bob Paisley yang justru lebih sukses dengan raihan 14 trofi, diantaranya adalah 6 gelar liga dan 3 Champions Cup. Meskipun begitu, tetap saja Paisley harus menjalani musim hampa gelar di tahun pertamanya. Setelah 9 tahun memimpin Liverpool, Paisley kemudian digantikan Joe Fagan yang langsung sukses di musim pertamanya dengan menjuarai liga, League Cup, dan Champions Cup. Dan lagi-lagi rahasia mulusnya transisi dari Paisley ke Fagan adalah karena sebelumnya Fagan merupakan asisten Paisley.

Setelah melihat fakta masa transisi dari beberapa klub diatas, kita bisa dengan mudah menyimpulkan bahwa setiap klub, baik di masa lalu maupun masa kini, yang sebelumnya lama dipimpin oleh seorang manajer yang sukses pasti akan mengalami masa transisi yang paling tidak memakan waktu satu tahun atau bahkan (seringkali) lebih. Mulusnya masa transisi Liverpool dan Barcelona adalah karena faktor penggantinya merupakan orang dalam yang sudah sangat mengenal karakter dan seluk-beluk klub tersebut.

Sekarang kita kembali ke United. Moyes sebagai suksesor Fergie tidak pernah sekalipun berkarir di Old Trafford. Ia benar-benar "orang luar", minim prestasi dan langsung didaulat meneruskan dinasti kejayaan United. Dan fans sekarang, di musim yang bahkan belum separuh berjalan, menuntut Moyes untuk langsung melesat. Sungguh menggelikan.

Pete Molyneux mengeluarkan banner "Ta Ra Fergie!" saat Sir Alex memasuki musim keempatnya, dan kini fans meneriakkan "Moyes Out!" saat musim bahkan belum separuh berjalan. Kritik, kesal, dan frustrasi itu wajar, tetapi sampai berkeinginan melihat Moyes hengkang saat ini hanyalah sebuah lelucon konyol. Saya tidak paham mengapa para Pete Molyneux wannabe ini mempunyai kesabaran yang lebih tipis dari sehelai rambut yang dibelah tujuh. Mengaku fans United, tapi bermental seperti fans Chelsea dan City.

So, apakah Moyes harus out? ya, Moyes memang seharusnya out... tetapi setelah kita memberinya cukup waktu untuk membuktikan kapasitasnya. Saya pribadi berharap, semoga kelak Moyes bisa "out" setelah memberikan sejumlah prestasi yang membungkam semua pembencinya.

Kepada brigade #MoyesOut, maaf jika artikel ini mengecewakan kalian. Saya harap kalian bisa segera menemukan klub baru. Good luck!
 


"Manchester United are in good hands with David Moyes. He will be fine... He is a good manager."
-Sir Alex Ferguson-
 

Sabtu, 17 Agustus 2013

LET'S STAND BY MOYES

By: dredarmy







Mei 1999, ratusan ribu fans United tumpah ruah memadati jalan-jalan kota Manchester, menyemut mengikuti laju bis yang membawa pahlawan mereka berparade setelah berhasil menorehkan sejarah emas Treble winner, tak akan ada yang melupakan hari itu –kecuali… tentu saja segelintir fans City.


Sepuluh tahun setelah mendapat banner usiran “Ta Ra Fergie” yang kesohor itu, Alex Ferguson akhirnya berhasil mengantar Manchester United mencapai langit ketujuh dunia sepakbola, dua trofi domestik dan satu trofi Eropa membuat kerajaan Inggris tidak ragu untuk menyematkan gelar ksatria pada pria keras dari Govan ini, semua fans United memujanya bak dewa, dunia mengakui kehebatannya. Alex is God.


Meanwhile, sekitar 53 kilometer dari kota Manchester, seorang manajer muda yang kerap dipanggil “Giant Eyes” oleh teman-temannya karena matanya yang bulat melotot saat marah tengah merenung sendiri di kerasnya lapangan Deepdale, ia baru saja gagal membawa timnya, Preston North End, melaju ke final play off Division Two, namun ia tidak berputus asa, karir manajerialnya baru saja dimulai, ia tahu akan melangkah kemana.


Saat ditawari menjadi asisten manajer Preston 2 tahun sebelumnya, seorang physio klub tersebut bertanya padanya apakah ia akan sungguh-sungguh menjalani karir manajerialnya, dengan tatapan tegas dan penuh keyakinan, pria ini hanya menjawab singkat, “Kelak saat umurku 45 tahun nanti, aku akan menjadi manajer kenamaan di Premier League.” And guess what? Dia berhasil, bahkan saat umurnya menginjak 50 tahun ia telah menjadi manajer dari klub terbaik di Premier League dan salah satu yang terbaik di dunia: Manchester United. Sesuatu yang saya yakin tidak terbayang dalam alam pikiran liarnya sekalipun ketika menjawab pertanyaan dari physio Preston tadi.

David William Moyes, nama lengkap pria itu, tidak hanya berasal dari tanah yang sama dengan Sir Alex, dia juga mempunyai watak yang sama: pekerja keras. Sejak umur 22 tahun dia telah mengikuti kursus kepelatihan, mengumpulkan berbagai catatan dari manajer-manajer yang pernah melatihnya, dan tak segan meminjam uang agar bisa berkeliling mengunjungi sesi latihan tim-tim di Piala Dunia 1998. Sir Alex sempat menawarinya menjadi asisten manajer tidak lama setelah itu, namun Moyes merasa belum siap, dia lebih tertarik untuk terus menimba ilmu dengan memanajeri timnya sendiri meski bukan di level tertinggi, tapi ia tahu pasti saat itu akan tiba.


Tak ada kerja keras yang tidak berbuah, bulan Maret 2002 menjadi saat bersejarah bagi Moyes setelah Everton resmi mengangkatnya sebagai manajer, akhirnya ia berhasil mewujudkan mimpinya menjadi manajer Premier League. Tak ada yang menyangka ia bisa bertahan begitu lama di Goodison Park dengan rata-rata prestasi yang cukup stabil bersaing di zona Eropa meski dengan kondisi seadanya, dia bahkan terus bisa mengorbitkan pemain-pemain muda. Semua itu tidak luput dari penilaian Sir Alex, dibalik tirai jendela kantornya di Carrington, Sir Alex merasa telah menemukan penerusnya.

Sekitar empat tahun yang lalu, saya berdiskusi dengan beberapa teman tentang siapa yang kelak akan menjadi pengganti Fergie, mayoritas teman berpendapat bahwa tidak ada sosok yang lebih tepat mengisi singgasana Sir Alex selain manajer Inter Milan saat itu, Jose Mourinho, alasannya sederhana: raihan prestasinya yang fantastis, sementara saya dan seorang teman lagi memilih David Moyes, dengan alasan yang tak kalah sederhana: kepercayaannya terhadap pemain muda, serta etos kerja dan karakternya yang mirip dengan Fergie. Tentu saja Moyes kalah populer jika dibandingkan dengan The Special One, hasil polling di salah satu forum fans juga menempatkan Mourinho jauh di atas Moyes, jangan coba sebut Jurgen Klopp, namanya bahkan tidak muncul di daftar polling karena memang nyaris tidak ada yang mengenalnya empat tahun lalu. Tahun berganti tahun, musim berganti musim, saya tetap yakin kelak Moyes lah yang akan menggantikan Fergie meski entah kapan.


And finally the time has come… 8 Mei 2013, Sir Alex resmi mengumumkan pengunduran dirinya sebagai manajer United, that was terribly shocking… sebagai fan United, hal terakhir yang ingin saya dengar adalah kabar tentang pensiunnya Fergie, dalam skala tertentu, ini seperti mendengar kabar bahwa besok matahari akan terbit dari barat. Sejak mendukung United di musim 1995/96, saya cukup beruntung bisa menjadi saksi dari berbagai sejarah yang ditoreh United, mulai dari dua kali gelar Double sampai malam surreal di Barcelona yang memastikan gelar Treble, tapi saya merasa tidak siap untuk menjadi saksi sejarah pergantian manajer United, akan menjadi sangat aneh menyaksikan orang lain duduk di dug-out Old Trafford setelah seumur hidup hanya melihat kakek tua yang duduk disana sambil sibuk mengunyah permen karet dengan wajahnya yang memerah.

Tapi itulah yang terjadi, akhir musim 2012/13 menjadi semacam roller coaster bagi semua fans United, senang luar biasa karena rekor gelar ke-20 bisa diraih tapi sekaligus sedih tak terkira karena Fergie harus pergi. Tapi, selalu ada sisi positif dari setiap hal yang negatif, dan bagi saya itu adalah tepatnya prediksi saya bahwa Moyes lah yang menjadi manajer United selanjutnya atas rekomendasi Fergie sendiri. Scots for another Scots.


Saya jadi teringat cerita dari Sean Gregan, salah satu anak asuh Moyes di Preston dulu, Sean berkisah bahwa saat itu tim sedang dalam perjalanan menggunakan bis, ketika ia ingin pindah duduk ke kursi depan, ia melihat Moyes tengah serius membaca biografi Sir Alex Ferguson dan menandai bagian-bagian penting di setiap halamannya. Sungguh suatu takdir yang sempurna melihat dia lah kini yang menjadi pengganti dari Sir Alex sendiri.

Musim 2013/14 akan segera bergulir, dan bagi saya ini adalah satu dari beberapa musim transisi, yup… beberapa. Dulu Fergie membutuhkan 4 musim untuk meraih trofi pertamanya, dan kita tidak tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan Moyes untuk membuktikan kualitasnya.

United akan selamanya menjadi United, klub dengan tradisi juara yang selalu memunculkan pemain-pemain muda terhebat, tapi transisi adalah keniscayaan, Sir Alex telah menunjuk penggantinya yang terbaik dan berpesan agar semua fans memberi dukungan penuh padanya…

“Your job now is to stand by our new manager!”

So, let’s just do that…

In Moyes We Trust… United We Stand!