Sabtu, 08 Maret 2014

20 FACTS: WEST BROMWICH ALBION




SEJARAH

1. West Bromwich Albion (WBA) didirikan pada tahun 1878 oleh para pekerja pabrik George Salter, yakni sebuah pabrik timbangan dan perkakas dapur  di kota West Bromwich, wilayah West Midlands.

 
 


West Bromwich sendiri adalah sebuah kota di wilayah Sandwell, provinsi West Midlands. West Bromwich berjarak sekitar 8 km dari kota Birmingham. Jumlah populasinya sekitar 75.405 jiwa di pusat kota dan 136.940 jiwa di pinggiran kotanya.



2. Nama awal WBA adalah West Bromwich Strollers dan baru berubah menjadi West Bromwich Albion pada tahun 1880. Albion sendiri adalah sebuah nama distrik di kota West Bromwich dimana kebanyakan para pekerja pabrik George Salter tinggal. Perubahan nama tersebut menjadikan WBA sebagai klub pertama yang menggunakan kata Albion sebagai nama klub. (tercatat setidaknya ada 8 klub di Inggris yang menggunakan nama Albion)



3. WBA mengikuti kompetisi besar pertamanya saat tampil di FA Cup 1883/84. Mereka kemudian resmi menjadi klub profesional pada tahun 1885.



4. WBA merupakan salah satu dari dua belas klub pendiri The Football League (kompetisi profesional di Inggris) pada tahun 1888.



5. WBA menjadi tim yang disegani di era 1950an dengan permainan menyerangnya yang atraktif, tim WBA di musim 1953/54 sempat dijuluki sebagai "Team of the Century" dan bahkan disarankan oleh media agar tim ini sajalah yang mewakili timnas Inggris di World Cup 1954.



LAMBANG

6. WBA memakai burung Murai (Throstles) sebagai lambang atas saran dari sekretaris klub Tom Smith karena pub tempat mereka berganti seragam jelang pertandingan selalu memelihara burung Murai. Dari sinilah julukan awal bagi WBA The Throstles berasal sebelum kini berjuluk The Baggies. Saat klub pindah ke stadion The Hawthorns, lambang klub dimodifikasi menjadi burung Murai yang sedang bertengger di atas dahan pohon Hawberry (Hawthorns), sebuah lambang yang bertahan sampai sekarang.


Evolusi lambang WBA

Di akhir dekade 1930an, pengurus klub sempat meletakkan burung Murai beserta sangkarnya di pinggir lapangan setiap pertandingan, dan dikatakan bahwa burung tersebut akan selalu bernyanyi jika WBA menang. Untuk saat ini, tradisi tersebut diganti dengan maskot bernama Baggie Bird yang selalu menyambut tim dan menghibur penonton.


JULUKAN

7. WBA mempunyai beberapa julukan seperti The Throstles (merujuk pada lambang burung Murai yang dipakainya), The Albion, dan yang paling populer adalah The Baggies. Konon nama The Baggies diberikan oleh fans rival mereka Aston Villa karena banyaknya fans WBA yang mengenakan celana panjang longgar (baggy) saat bekerja di pabrik untuk menghindari percikan panas logam. Meskipun demikian, sejarawan klub Tony Matthews berpendapat bahwa nama The Baggies berasal dari kata bag (tas) karena dulu ada seorang pekerja klub yang membawa tas kulit besar sambil berkeliling stadion untuk menjual official matchday programme.



ANTHEM

8. Lagu anthem WBA adalah The Lord's My Shepherd yang terinspirasi dari isi kitab Mazmur pasal 23.





The Lord's my Shepherd, I'll not want: He makes me down to lie In pastures green; he leadeth me The quiet waters by.


KIT & JERSEY

8. WBA memakai warna strip putih-biru (navy blue) sebagai warna kebesaran mereka sejak musim 1885/86. Sebelumnya, The Baggies pernah beberapa kali memakai padanan warna lain seperti merah-putih, merah-biru, kuning-putih, dan coklat-biru. Sewaktu era Perang Dunia II, mereka sempat mengenakan seragam serba biru dikarenakan mahalnya biaya pembuatan seragam strip kombinasi warna kala itu.



jersey pertama WBA yang memakai strip biru putih


Saat ini jersey WBA disponsori oleh Adidas dengan sponsor utama Zoopla, sebuah website properti asal London.



STADION

9. WBA bermarkas di The Hawthorns stadium (26.272) sejak tahun 1900. Nama The Hawthorns diambil karena dulu area stadion dikelilingi oleh pepohonan Hawberry (Hawthorns). Sebelumnya menetap di The Hawthorns, tercatat The Baggies 5 kali berpindah-pindah stadion, mulai dari Cooper's Hill sampai Stoney Lane.






The Hawthorns menjadi stadion Inggris pertama yang menggunakan pintu masuk elektronik di gerbangnya.




10. The Hawthorns merupakan stadion dengan letak tertinggi di Inggris, sekitar 168 m di atas permukaan laut.



SUPPORTER

11. Fans WBA terkenal sebagai fans yang cukup kompak. Mereka sering merayakan away days terakhir tiap musimnya dengan mengenakan satu dress code yang unik. Meski bukan klub besar, fans club WBA juga tersebar di banyak negara seperti Kanada, Australia, sampai Thailand.



Fans WBA saat merayakan keberhasilan timnya promosi ke Premier League


Pada musim 2002/03 fans The Baggies memenangi polling sebagai fans terbaik dan tahun yang sama sebuah survey yang dilakukan BBC bertajuk "national intelligence test" menunjukkan hasil bahwa fans WBA memiliki kecenderungan lebih intelek ketimbang fans-fans lainnya di Inggris.



Fans garis keras WBA biasanya menempati tribun Birmingham Road End (Brummie Road) di The Hawthorns. (berada di belakang gawang sebelah kiri jika dilihat dari layar televisi)



RIVAL

12. Rival utama WBA adalah Wolverhampton Wanderers dan Aston Villa. Rivalitas dengan Villa telah terjadi sejak akhir era 1800an kala keduanya kerap bertemu di final FA Cup. Sementara rivalitas dengan Wolves tercipta sebagai sesama klub dari wilayah Black Country, sehingga pertemuan keduanya dijuluki sebagai Black Country Derby. Bahkan menurut survey yang digelar The Football Pools pada tahun 2008, Black Country Derby merupakan derby terpanas di sepakbola Inggris.






 LEGENDA

13. Manajer tersukses WBA adalah Fred Everiss yang berhasil membawa The Baggies menjuarai liga musim 1919/20, runner up liga musim 1924/25, dan menjuarai FA Cup 1930/31. Manajer legendaris lainnya diantaranya adalah Louis Ford, Vic Buckingham, Jimmy Hagan, Alan Ashman.



14. Beberapa nama tenar lain yang pernah memanajeri WBA adalah mantan manajer United, Ron Atkinson, legenda Argentina Osvaldo Ardiles, dan Roberto Di Matteo.



15. Tony Brown (1963-1981) menjadi pemain yang paling banyak memperkuat The Baggies dengan 720 penampilan. Brown juga sekaligus menjadi top skor sepanjang masa klub dengan 279 gol.



16. Beberapa legenda lain dari The Baggies diantaranya adalah Ally Robertson, John Wile, W.G. Richardson, Ronnie Allen, Sir Bobby Robson, Jeff Astle, Cyril Regis, dan Bryan Robson.



Jeff Astle gate di The Hawthorns


PRESTASI

17. The Baggies menempati peringkat ke-16 dalam daftar klub tersukses di Inggris dengan total raihan 8 trofi.

Di ajang liga, WBA tercatat 1 kali juara (1919/20) dan 2 kali runner up (1924/25, 1953/54).



Sementara di Premier League, prestasi terbaik The Baggies adalah saat menduduki peringkat ke-8 di musim 2012/13 lalu.



Di FA Cup, WBA berhasil menjadi juara sebanyak 5 kali (sama dengan Everton dan Manchester City) yakni di musim 1887/88, 1891/92, 1930/31, 1953/54, dan 1967/68.



Di League Cup, The Baggies baru 1 kali menjadi juara (1965/66).
 


Di pentas Eropa, prestasi terbaik WBA adalah saat mencapai perempatfinal Cup Winners' Cup 1968/69 dan UEFA Cup 1978/79.



Trofi terakhir yang diraih The Baggies sejauh ini adalah FA Cup 1967/68.
 



UNITED LINK

 18. Ron Atkinson tercatat menjadi manajer yang pernah mengarsiteki United dan WBA. Big Ron menjadi manajer WBA pada 1978-1981, ia kemudian pindah ke United pada 1981-1986, dan setelah itu kembali ke WBA di musim 1987/88.



Selain itu Johny Giles dan Bryan Robson menjadi mantan pemain United yang menjadi manajer The Baggies setelah pensiun. Giles bermain untuk United pada periode 1959-1963 dan menjadi manajer WBA pada 1975-1977 dan 1984-1985. Sementara Robbo menjadi pemain United pada 1981-1994 dan menjadi manajer WBA pada 2004-2006.



19. Total 18 pemain pernah memperkuat WBA dan United, diantaranya adalah Johny Giles, Arthur Albiston, Remi Moses, Bryan Robson, Mike Phelan, Ronnie Wallwork, Jonathan Greening, Kieran Richardson, dan Tomasz Kuszczak.



20. Nama The Baggies juga akan mempunyai kenangan tersendiri bagi fans United setelah mereka menjadi lawan terakhir yang dihadapi Sir Alex Ferguson sebelum memutuskan pensiun di akhir musim 2012/13 lalu.







Sabtu, 01 Maret 2014

2013/14 FIXTURES FOR MARCH




JADWAL MANCHESTER UNITED DI BULAN MARET:

[BPL] WEST BROMWICH ALBION v MUFC
  SABTU, 8 MARET 2014 - KICK OFF 19.45 WIB

[BPL] MUFC v LIVERPOOL
  MINGGU, 16 MARET 2014 - KICK OFF 20.30 WIB

[UCL] MUFC v OLYMPIAKOS
  KAMIS, 20 MARET 2014 - KICK OFF 02.45 WIB

[BPL] WEST HAM UNITED v MUFC
  MINGGU, 23 MARET 2014 - KICK OFF 00.30 WIB

[BPL] MUFC v MANCHESTER CITY
RABU, 26 MARET 2014 - KICK OFF 02.45 WIB
 
[BPL] MUFC v ASTON VILLA
SABTU, 29 MARET 2014 - KICK OFF 19.45 WIB
 
 

MENIMBANG MASA DEPAN THE CHOSEN ONE





Sudah bukan rahasia lagi jika selama ini saya dikenal selalu mendukung David Moyes. Beberapa teman sampai berseloroh bahwa saya sudah seperti pengacara Moyes yang akan selalu vokal dalam membela kliennya, meski sebenarnya yang saya lakukan hanyalah coba untuk bersikap proporsional sambil menjalankan pesan Fergie untuk "stand by our new manager."

Ketika Moyes resmi didaulat menjadi bos baru di Old Trafford, kita tahu jika masa transisi yang sulit akan segera menghampiri klub dan juga fans. Menggantikan peran manajer yang sebelumnya cukup sukses bukanlah pekerjaan yang mudah, apalagi menggantikan salah satu manajer terhebat sepanjang masa.

Dalam artikel terdahulu saya sudah menyatakan dukungan terhadap Moyes jauh sebelum Fergie pensiun karena saya merasa sosok Moyes mirip dengan Fergie serta sesuai dengan etos dan karakter klub, satu hal yang diluar dugaan juga diamini fan City. Meskipun begitu saya sadar betul jika Moyes mempunyai satu kekurangan yang di mata sebagian besar fans tidak terampuni: nihil prestasi.

Cacat terbesar Moyes tersebut sepertinya tidak menjadi halangan bagi klub dan khususnya Fergie untuk menunjuk --bukan lagi menawarkan-- Moyes sebagai suksesornya. Kontrak jangka panjang berdurasi 6 tahun yang diberikan mengindikasikan kepercayaan penuh klub pada pria asal Bearsden Skotlandia itu untuk meneruskan kejayaan United.

Moyes pun mengawali tugasnya dengan baik, memberi gelar Community Shield ke-20 United serta memulai kompetisi di puncak klasemen setelah menghajar tuan rumah Swansea City 4-1. Nama David Moyes makin lantang dinyanyikan dan banner The Chosen One pun dibentangkan, fans mulai berpikir bahwa sepertinya masa transisi akan berjalan dengan mulus.


Sampai kemudian datanglah apa yang selama ini dikhawatirkan. Pekan demi pekan, pertandingan demi pertandingan, hasil buruk mulai terus ditorehkan. Tercecer dalam persaingan di Premier League, gugur di dua piala domestik, sampai yang terakhir kalah dari Olympiakos di Champions League. Semua itu diperburuk dengan gaya permainan monoton yang ditampilkan pria-pria linglung tanpa semangat juang serta diselingi pula oleh beberapa komentar konyol dan basi dari Moyes sendiri di depan media.


Lantas siapa yang salah? tak ada yang paling mudah jika terjadi masalah selain mencari kambing hitam, dan mayoritas fans pasti akan langsung menunjuk Moyes. Well, saya sepakat. Manajer adalah orang yang paling bertanggung jawab terhadap kinerja tim dan Moyes jelas punya peranan atas hasil negatif sejauh ini, entah lewat kesalahan strateginya atau dalam hal pemilihan pemain. Tapi tentu saja kesalahan tidak layak dibebankan sepenuhnya pada Moyes, para pemain jelas juga punya andil dan itu diakui sendiri oleh mereka.

Mengenai hal ini, saya ingin mengajak anda sejenak untuk melihat apa yang terjadi pada Liverpool 23 tahun yang lalu --tepatnya di musim 1990/91. Saat itu Liverpool yang dilatih Kenny Dalglish merupakan juara bertahan dan sampai awal paruh kedua musim masih memimpin klasemen dengan keunggulan 3 poin atas Arsenal. Bencana mulai datang saat Dalglish tiba-tiba memutuskan untuk mundur di bulan Februari karena alasan kesehatan. Liverpool kemudian menunjuk Graeme Souness untuk menggantikan Dalglish dan pada akhirnya mereka harus puas mengakhiri musim di posisi runner-up setelah tertinggal 7 poin dari sang juara Arsenal. Souness kemudian memimpin Liverpool selama 3 musim berikutnya dan hanya berhasil mempersembahkan 1 gelar FA Cup dengan tanpa sekalipun menyentuh posisi 4 besar di liga. Masa-masa dipegang Souness merupakan awal runtuhnya dominasi Liverpool di Inggris dan mereka belum bisa bangkit lagi sampai saat ini. (itulah kenapa fans Liverpool sekarang kerap mengejek fans United dengan berkata: "Moyes is your Souness, so welcome to your Souness era!")


Yang perlu kita cermati disini adalah sebelum ditunjuk Liverpool, Souness sudah sangat sukses sebagai player-manager di Celtic dengan 3 kali menjuarai liga Skotlandia dan 4 Scottish League Cup, tambahkan lagi bahwa dia adalah seorang legenda Liverpool yang pastinya sudah sangat paham dengan karakteristik klub, tapi toh dia tetap gagal mempertahankan kejayaan Liverpool.

Mengapa Souness gagal? bukankah dia diwarisi skuat juara oleh Dalglish dan dia sendiri juga telah berpengalaman menjadi juara? jawabannya sederhana, karena Souness diwarisi skuat juara yang sudah menua dan melewati puncak permainannya serta yang paling utama adalah karena para pemain terlihat seperti tidak ingin bermain untuk Souness.


Salah satu pemain Liverpool saat itu, John Barnes mengungkapkan pendapatnya, "Ketika Graeme Souness datang suasana menjadi berbeda, mental pemain seperti berubah dan mereka tidak lagi tampil all out. Para pemain tahu betul jika tim mendapat hasil buruk maka yang akan disalahkan adalah manajer sehingga mereka seperti merasa lepas dari tanggung jawab." Barnes kemudian mengaitkan kondisi Liverpool saat itu dengan kondisi United sekarang, "Apa yang terjadi di United saat ini mirip dengan kondisi kami dulu. Maka jika sekarang pemain United tidak tampil sebaik saat masih dipimpin Fergie, itu bukanlah cerminan total dari jeleknya manajer baru. Mereka seharusnya bertanya pada diri mereka sendiri: 'Jika dulu saya bisa tampil bagus mengapa sekarang harus berubah?' Ini adalah persoalan mental."

Saya tidak bisa lebih setuju lagi dengan Barnes. Dia telah merasakan sendiri berada dalam sebuah tim hebat yang kemudian hancur. Apa yang dikatakannya adalah benar. Bukankah sekarang kita melihat para pemain United terlihat begitu kikuk saat tampil di lapangan dan bermain nyaris tanpa semangat juang sehebat dulu? Semua terlihat jelas dari sikap dan gerak-gerik mereka.


Banyak fans begitu silau dengan pencapaian gelar juara yang diraih dengan keunggulan 11 angka di musim lalu sehingga mereka pikir seharusnya Moyes bisa dengan mudah menjalankan tugasnya. Mereka seperti lupa atau menutup mata bahwa skuat yang kita punya sebenarnya berisi kumpulan pemain yang masih jauh dari peak performance mereka atau malah sudah habis masanya, dengan sebagiannya lagi berkualitas biasa saja.


Dengan kejeniusannya, Fergie mungkin merasa cukup dengan skuat yang berisi pemain yang sudah habis seperti Evra atau Rio, pemain satu kaki seperti Valencia, pemain labil seperti Nani, pemain tambun seperti Anderson, pemain dengan skill standar seperti Cleverley, serta pemain dengan skill misterius seperti Young. Fergie bisa meracik semuanya menjadi sekumpulan juara. Tentu saja kita tidak bisa mengharapkan hal yang sama langsung bisa dilakukan Moyes di musim pertamanya, tambahkan lagi dengan faktor non-teknis seperti mental dan keengganan bermain optimal demi sang manajer baru seperti yang dialami Liverpool dulu.

Maka hal terbaik yang bisa dilakukan pihak klub dan juga fans adalah memberikan Moyes waktu untuk membuktikan kapasitasnya. Biarkan dia membangun kembali tim, membuang pemain yang sudah habis atau enggan bermain untuknya, membeli pemain yang dibutuhkan, dan mengembangkan skema permainan yang tepat.

Saya mengerti bahwa sepakbola modern tidak lagi menyediakan banyak waktu untuk membiarkan seorang manajer bekerja dengan tenang. Kita tidak bisa lagi berharap Moyes akan diberikan waktu selama yang Fergie rasakan dulu. Tapi tetap saja tidak adil jika kita memberikan waktu semusim atau bahkan kurang dari itu. We are not Chelsea and surely we don't want to be like them. Saya pikir setidaknya 2 musim adalah waktu yang cukup fair untuk diberikan pada Moyes meski tentu saja brigade Moyes out tidak akan setuju dan akan menentangnya habis-habisan.


Di sekolah tempat saya mengajar, saya mempunyai beberapa orang murid berprestasi yang juga menggemari United dan mereka termasuk ke dalam brigade Moyes out garis keras. Suatu hari saya memberi mereka 50 soal simulasi ujian masuk perguruan tinggi negeri yang sulit dan meminta mereka untuk menyelesaikannya dalam waktu 15 menit atau jika tidak saya akan menganggap mereka sebagai siswa yang payah dan tidak layak untuk kuliah di perguruan tinggi favorit. Spontan mereka langsung bereaksi dengan berkata, "Yang benar saja pak?! Masak kami harus menyelesaikan soal sebanyak dan sesulit itu dalam waktu 15 menit dan kalau gagal langsung dianggap payah? Gak fair itu namanya!" Sambil tergelak saya pun menanggapi mereka, "Hehe... See? Secerdas atau sehebat apapun kita, tetap saja kita membutuhkan waktu untuk mengerjakan dan menyelesaikan hal yang sulit... begitu juga Moyes, he definitely needs time." Menyadari sindiran dan arah pembicaraan saya, mereka pun hanya bisa cengar-cengir dan menggerutu.

Kita memang seringkali begitu, menuntut seseorang melakukan sesuatu seperti yang kita mau tanpa sadar bahwa kita pun belum tentu sanggup jika dituntut hal yang sama. Moyes tidak sejenius Mourinho atau segemilang Klopp, dia juga tidak sehebat Guardiola, tapi ini makin menunjukkan kalau Moyes harus diberikan waktu yang cukup untuk membuktikan kapasitasnya. Maka berhentilah berandai-andai dan tetaplah berdiri dibelakangnya. Tak ada yang salah dalam mendukung Moyes, jika dia sukses maka memang itulah yang kita inginkan, tapi jika dia gagal maka setidaknya kita sudah menjalankan tugas sebagai fans untuk selalu memberikan dukungan dalam suka maupun duka.

Ah, tapi sudahlah... menginginkan Moyes out saat ini adalah pilihan yang paling populer dan akan membuat anda terlihat cerdas ketimbang memberikan dukungan yang hanya akan membuat pelakunya terlihat bodoh meskipun itu dilakukan oleh Gary Neville, legenda klub yang juga menjadi seorang pundit paling brilian saat ini.

Bukankah dalam sepakbola fans memang selalu jadi yang paling pintar dan tahu segalanya?